fbpx

Masa Kritis Bank Tradisional Sudah di Depan Mata ?

Berdasarkan World Fintech Report 2020, jarak diantara bank tradisional dengan harapan para nasabahnya semakin terasa. Dalam beberapa tahun kebelakang dunia telah berkembang pesat dan telah mengalami transisi ke dunia digital. Dalam hal ini bank tradisional yang sudah matang merancang infrastruktur front-end IT untuk meningkatkan pengalaman nasabah, mengalami pertumbuhan yang tidak sesuai ekspektasi. Hal ini dikarenakan bank tradisional kesulitan menarik minat konsumen dan menyebabkan bank tradisional berada dalam keadaan kritis.

Untuk dapat mengikuti keinginan konsumen yang saat ini terus berkembang, bank tradisional harus berubah menjadi Bank Inventif dengan dukungan kolaboratif dari mitra fintechs yang berkualitas. Namun kolaborasi bank dengan fintech tidak berjalan sesuai rencana, ada beberapa kendala yang dialami. Hanya 21% bank mengatakan sistem nya cukup efektif dalam kolaborasi. Hanya 6% bank yang telah mencapai ROI (Return On Investment) atau rasio uang yang diperoleh atau hilang pada suatu investasi, relatif terhadap jumlah uang yang diinvestasikan. Setengah dari pelaku fintechs mengatakan mereka belum menemukan mitra kolaboratif yang tepat.

Fintechs yang pada awal kemunculannya dianggap sebagai pengganggu bank tradisional, kini bank sudah tidak bisa lagi menganggap fintech sebagai saingan namun harus bisa berkolaborasi dengan fintech untuk memenuhi keinginan konsumen. Untuk dapat terus bersaing dan menarik konsumen, bank dapat menerapkan Open X atau era platform terbuka multi-sektoral yang memaksimalkan eXperience yang beberapa aspeknya mengutamakan pengalaman pelanggan, fasilitas Akses bersama, pertukaran data layanan dan kerjasama (inovasi produk) yang membangun satu sama lain.

Antara bank dengan fintech, terciptanya kolaborasi yang efektif membutuhkan kematangan bisnis, proses, dan orang yang terlibat. Bagi bank tradisional, kegagalan bukan pilihan, sementara, fintechs cenderung cepat dalam pasar dan siap untuk gagal. Kemauan dan kemampuan Bank Inventif dalam berkolaborasi dalam skala besar dan mengembangkan inovasi memungkinkan adanya keberhasilan dalam penggunaan sistem Open X.

Sementara itu, 48% dari pelanggan saat ini (Generasi Z) kesulitan dengan perputaran produk yang terbatas dan layanan yang ditawarkan oleh bank tradisional mendorong mereka untuk beralih mencari layanan yang sesuai dengan preferensi dan berintegrasi dengan platform atau aplikasi.

Selain berkolaborasi dengan para pelaku fintech, bank tradisional dalam mengembangkan dan meningkatkan pelayanan terhadap nasabah dapat juga memberikan layanan branchless banking. Nasabah akan dimudahkan dengan berbagai layanan keuangan dan perbankan seperti pembukaan rekening, setor tunai, tarik tunai, dan transaksi lainnya. Branchless.id dalam rangka membantu tercapainya inklusi keuangan di Indonesia hadir dengan menyediakan layanan Bank+ .

Bank+ merupakan platform layanan digital branchless banking atau Laku Pandai yang memungkinkan pihak Bank dalam menyediakan layanan keuangan/perbankan tanpa perlu membuka cabang kantor. Beberapa fitur yang terdapat pada platform Bank+ untuk memudahkan Bank dalam penyelenggarakan Laku Pandai diantaranya yaitu fitur Tabungan, Mini Kios, Akusisi Agen, dan Managemet Back Office. Informasi lebih lengkap mengenai Bank+ dapat Anda baca disini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top